Aranjuez Yang Melegenda: Latar belakang penciptaan dan analisa karyanya

Oleh: Roy Thaniago

(thaniago.blogspot.com)

Dalam dunia musik klasik, jarang sekali ada karya untuk gitar yang dikenal begitu luas oleh masyarakat musik di luar gitaris atau pecinta karya gitar. Sekali pun ada, apresiasinya tak setinggi karya untuk piano, biola, atau simfoni. Di sedikitnya karya gitar yang dimaksud, juga di tengah minimnya karya untuk gitar dalam sebuah orkestra, tercuatlah satu karya yang paling populer, Concierto de Aranjuez.

KARYA di atas tidak bisa lagi diklaim sebagai repertoar wajib gitaris profesional. Karena bagaimanapun juga, karya milik Joaquin Rodrigo (1901 – 1999) ini sudah menjadi repertoar yang dimiliki seluruh masyarakat musik klasik. Musikalitas serta cara Rodrigo membagi ide musikalnya dalam karya ini, membuat Concierto de Aranjuez menjadi amat populer, bahkan menjadi semacam lagu kebangsaan warga Spanyol, negara di mana Rodrigo berasal. Bukan itu saja, satu per satu musisi dunia pun menyempatkan diri untuk menjajal repertoar dengan nuansa Spanyol yang kental ini. Hal ini jugalah yang mengilhami musisi legendaris Jazz macam Miles Davis dan Chick Corea dalam mencipta musik mereka masing-masing.

Rodrigo, yang mengalami kebutaan sejak kanak-kanak, juga membuat 4 komposisi gitar lainnya yang berbentuk concerto, namun Concierto de Aranjuez­-lah yang paling terkenal. Lewat karya ini, memperlihatkan bagaimana ia sadar akan pentingnya mempelajari dan mengkoreksi karya-karya komponis pendahulunya beserta karyanya. Ia mengkombinasikan pengetahuan musikologinya dengan karya-karya komponis sebelumnya menjadi sebuah mahakarya komposisi yang fenomenal dan amat dipuja sepanjang masa.

Karya ini agak unik dengan bentuknya yang masih berpegang pada bentuk karya musik di zaman Klasik, tapi punya karakter musik zaman Romantik pula. Gaya Klasik terlihat dari bentuknya yang pada umumnya dipakai di zaman Klasik, yakni terdiri dari tiga bagian: Allegro con Spirito, Adagio, dan Allegro Gentile, yang mana bagian pertama dimainkan dengan tempo cepat, kemudian lambat pada bagian kedua, dan cepat kembali di bagian terakhir. Sedang karakter Romantik terlihat dari penggunaan nada-nada kromatik dan cara memainkannya yang memakai tempo rubato.

Uniknya, Rodrigo tidak sepenuhnya memakai bentuk concerto yang lazim dipakai di zaman Klasik, yakni dengan memulai lagu dari suara orkestra baru kemudian solois. Tapi dia menyimpang dari kebakuan tersebut, dia melakukan sebaliknya, yaitu mendahulukan solis (gitar) baru kemudian disusul dengan suara orkes sebagai imitasinya.

Concierto de Aranjuez adalah sebuah komposisi yang ditulis pada tahun 1939 yang sebenarnya diperuntukkan bagi instrumen gitar yang diiringi orkestra. Namun pada analisa di bawah ini, repertoar yang dipakai adalah transkripsi untuk duet gitar dan piano.

Historis Karya

Sejarah karya ini dimulai ketika di tahun 1938, Rodrigo diundang untuk mengajar di universitas yang terletak di bagian utara Spanyol, University of Santander, pada musim panas. Sekembalinya ke Paris di bulan Agustus akhir, ia mengatur pertemuan dengan Regino Sainz de la Maza, seorang gitaris yang Rodrigo jumpai sejenak di salah satu kota di Spanyol, San Sebastian. Regino Sainz de la Mazza kemudian menawarkan diri untuk membawakan karya yang akan dicipta Rodirgo dan akan dimainkan pertama kali di Madrid dengan dipimpin konduktor Jesus Arrambarri. Rodrigo sangat antusias menerima tawaran ini yang kemudian membuatkan sebuah karya concerto yang didedikasikan untuk sang gitaris tersebut.

Namun, sekembalinya Rodrigo ke Paris, ia menghadapi banyak sekali kesibukan seperti bekerja untuk Radio Paris, mempersiapkan resital kecil, dan menulis karya yang lain. Hingga tahun 1939, ia juga tak memulai menulis komposisi tersebut. Di tahun itu pula, Victoria Kamhi, istrinya yang seorang pianis berdarah Turki yang dinikahinya tahun 1933, sedang mengandung anak pertama mereka. Naasnya, kandungan tersebut mengalami keguguran. Semasa pemulihan Kamhi di rumah sakit, Rodrigo sering menyendiri di rumahnya, menghabiskan malam, dan memainkan bagian kedua karya tersebut, Adagio di dalam kegelapan. Dia mengatakan bahwa ketika memainkan tema lagu ini, ia seperti terkenang pada masa bulan madunya yang bahagia, ketika mereka berjalan di taman Aranjuez, dan ketika itu, itulah lagu cinta mereka. Karena alasan-alasan tersebut, Rodrigo menamai karya ini, Concierto de Aranjuez.

Aranjuez sendiri adalah sebuah kota kecil di Madrid, Spanyol. Di sana terletak sebuah bangunan bernama Palacio Real de Aranjuez tempat kediaman Raja Spanyol kala itu, Philip II. Bangunan tersebut dirancang oleh Juan Bautista de Toledo dan Juan de Herrera. Pada masa sekarang, tempat tersebut menjadi situs Kerajaan Spanyol dan dibuka untuk umum.

Analisa Bagian Pertama: Allegro con Spirito

Seperti yang sudah diurai di atas, bahwa Rodrigo mengadopsi bentuk musik di zaman Klasik yang biasanya terdiri dari tiga bagian, yang mana pembukaan dan penutup bertempo semangat dan cepat, sedang di bagian tengah dibuat berlawan yang sangat kontras, lambat. Dan uniknya, Rodrigo melawan pakem dengan solois (gitar) menjadi pemulai, bukan orkestranya.

Lagu dibuka oleh teknik rasguado pada gitar dalam tangga nada D Mayor. Dalam birama 6/8, lagu ini menghadirkan efek ritmis. Hanya dua akor yang digunakan, D dan G/D. Perlahan, dinamika yang berawal pianissimo ini menaikkan tensinya dengan menggunakan dinamika yang perlahan naik, serta pemakaian oktaf yang makin tinggi. Hal ini berlangsung sampai birama kedelapanbelas, atau setara dengan mengulangi gaya ritmis di awal sebanyak tiga cara (tiga oktaf). Lalu disusul dengan solo melodi pada bass gitar yang disahut oleh suara piano pada register atas.

Birama keduapuluhenam, piano masuk dan mengimitasi suara ritmis gitar. Dengan bentuk yang sama persis seperti yang dibawakan gitar (dinamika dan permainan oktaf), pada birama keempatpuluh lima, melodi (tema) do-mi-sol ditambahkan. Dan hal ini yang kemudian dilakukan juga oleh gitar pada bar keenampuluhsatu (tema dua).

Membaca uraian teks di atas, terlihat bagaimana bentuk musik Rodrigo yang masih mengacu pada bentuk concerto Klasik. Namun, umumnya, pada concerto milik Mozart misalnya, selalu dibuka oleh ritornello, yakni sebuah frase singkat dalam pasasi musik yang berulang atau diulang kembali. Baru kemudian diikuti tema yang dimainkan solois, lalu ritornello di tengah-tengah yang memimpin untuk masuk pada sesi free development dengan frase transisi yang mengantar menuju rekapitulasi dan diakhiri dengan ritornello kembali. Frase transisi terlihat pada birama ketujuhpuluhempat yang selanjutnya mengantar pada sebuah tema baru (tema 3) di birama kedelapanpuluhtiga

Masih mengacu pada bentuk concerto zaman Klasik, bagian pertama dari karya Rodrigo ini memakai bentuk sonata yang terdiri dari dua potongan: potongan pertama dalam tonik mayor (D Mayor), dan dominan minor (A minor) pada potongannya yang lain.

Dominan minor ini terdengar pada birama keseratusduabelas yang dimainkan piano, setelah sebelumya dijembatani oleh solo gitar. Pada nuansa minor ini, pola ritmik dan motif melodi sama dengan bagian mayor. Rodrigo hanya mengambil bahan terdahulu, dan mengembangkannya dengan permainan dinamika, modulasi, dan solo melodi yang cepat. Terlihat sekali pada bagian minor ini ingin menunjukkan virtuositas solois.

Sekali lagi, Rodrigo memperlihatkan idenya yang cemerlang. Walau memakai bentuk concerto Klasik, namun ia mencoba untuk memodifikasinya. Ini terlihat dari sesi minor ini. Biasanya, pada concerto sesi kedua, tonalitas yang dipakai adalah dominan mayor dari tema satu. Tapi Rodrigo dengan santainya membuat dalam dominan minor. Bukan itu saja, nuansa minor yang dimainkan piano ini kemudian disahut oleh solois (gitar) dalam akor A Mayor. Terdengar sekali suara yang dihasilkan amat kontras. Namun ini tak berlangsung lama, karena setelah melewati akor A Mayor yang hanya 4 birama ini, Rodrigo langsung membelokkannya menjadi A Minor.

Setelah puas dalam tangga nada minor yang serasa diajak masuk pada sebuah imaji, dan menunjukkan virtuositas gitaris (hal yang lazim digunakan pada zaman Klasik), kembali tema dua terdengar dari piano. Dan setelah coda yang singkat, tema pertama muncul kembali dan mengakhiri bagian ini.

Analisa Bagian Kedua: Adagio

Bagian kedua ini dalam Concierto de Aranjuez, memang yang paling dikenal luas oleh publik musik klasik. Bagian ini dimainkan dalam relatif minor (B Minor) dan mempunyai 3 sesi dan coda. Isi dari bagian Adagio ini sebenarnya hanyalah potongan 3 not sederhana (neighboring note) yang dikembangkan dan divariasikan terus menerus hingga akhir bagian.

Dengan bertempo lambat dan dalam birama 4/4, bagian ini dimulai dengan gitar sebagai pengiring. Melodi utama (tema utama) muncul pada birama kedua dan dikembangkan sepanjang 5 birama. Pada waktu ini, terdapat nada yang bergerak turun (descending scale), dan terdapat nada A natural, tapi dilawan oleh nada A# pada gitar.

Setelah itu melodi yang sama dijawab oleh gitar sepanjang 5 birama pula. Melodi ini tidak sama persis, karena diberi dekorasi not yang direpetisi dan terdapat perubahan harmoni dasar yang diinversi. Kemudian, dengan akor mayor pada gitar yang bergerak turun (GM, F#m, Em), tema utama dimainkan kembali oleh piano namun pada nada 4 tingkat lebih tinggi.

Selanjutnya, pada bagian ini (birama ketujuhbelas), tema dimainkan lagi oleh gitar namun dengan pengembangan dan tensi yang semakin naik. Terdapat banyak tambahan not sebagai unsur dekoratif. Lalu menyusul suara piano yang melanjutkan melodi pada gitar tadi. Dan terjadi pergantian akor dominan (F#m) pada birama keduapuluhempat yang kemudian berpindah lagi menjadi F#M pada birama berikutnya (gitar).

Di sesi kedua (ada 3 sesi di bagian Adagio), gitar kembali membawa melodi namun dalam akor B7. Sesi ini hanyalah terdiri dari pengembangan sesi sebelumnya (tema utama) dan ditambahkan dengan cadenza.

Pada birama ketigapuluhtujuh, gitar memainkan melodi dan iringan secara mandiri (solo) dalam akor Em. Rodrigo yang termasuk dalam golongan komposer akhir Romantik bahkan cenderung modern ini, tidak lupa memberi ciri itu pada karya ini. Itu terlihat pada solo gitar ini yang disisipkan not enharmonic (C natural). Kemudian, sebuah teknik trill pada gitar yang disambung dengan not kromatik yang bergerak naik dengan amat cepat, dan terus menggiring (bersama piano) dengan terjadi perubahan tempo menjadi lebih cepat untuk sesaat, lalu masuk pada cadenza.

Cadenza dimainkan oleh solo gitar pada register rendah (bass) dalam tangga nada baru (G#m). Pada waktu ini, motif pada tema utama dipakai kembali. Walau seluruh not ditulis pada partitur, namun pada bagian ini terkesan adanya nuansa improvistoris pada gitar. Gitar secara mandiri membawakan melodi dan bass bergantian, membentuk sebuah kalimat/frase tanyajawab yang terus diolah semakin intim, intensif, dan mengarah ke pra-klimaks. Namun setelah pra-klimaks ini, suasana yang tenang hadir, tapi tak lama, karena usaha untuk membangun suasana menuju klimaks terjadi lagi. Strumming cepat di gitar menunjukkan titik klimaks pada bagian Adagio ini yang kemudian langsung dijawab oleh piano dengan tangga nada baru lagi, yakni F#m.

Pada suara piano ini pulalah terjadi rekapitulasi. Tema yang dimainkan dalam tangga nada baru ini digandakan dalam permainan oktaf, yang dijawab oleh echo tema. Sedang bassnya memakai bahan tema gitar pada tema utama di awal bagian Adagio. Lalu setelah pola ini berjalan sepanjang 5 birama, ada melodi dalam kelompok triol yang menggiring pada tema utama yang bermain dalam akor D Mayor. Dan pola jawaban echo tetap mengawal hingga solo gitar sebanyak 2 ½ birama yang berbentuk kontrapungtal tanya jawab.

Bagian Adagio ini ditutup dengan coda singkat sebanyak 4 birama dengan nuansa piu tranquillo dan frase akhir ini dikembalikan pada tonik, yang sebelum ditutup didahulukan oleh akor dominan (F#M) pada gitar dan berakhir di akor BM dengan permainan harmonik pada gitar.

Seperti pada bagian pertama, Allegro con Spirito, pada bagian Adagio ini melodinya pun sangat dibatasi pada rentang nada, mungkin mengingat kemampuan gitar dan piano (atau orkestra) dalam hal jangkauan nada amatlah berbeda. Namun dalam hal keselarasan suara, Rodrigo amat seimbang menentukan porsi suara gitar (solois) maupun piano (orkestra). Melodi pada bagian kedua ini terdiri dari beberapa frase singkat yang memberi kesan liris.

Analisa Bagian Ketiga: Allegro Gentile

Bagian Allegro Gentile ini mempunyai susunan komposisi yang sebenarnya mirip dari bagian Adagio. Dengan berstruktur sederhana, tema utama dan variasinya, bagian ini hanya memakai sedikit sekali not yang dijadikan tema dan kemudian digarap (pengembangan), dan diberi penyelesaian akhir.

Allegro Gentile artinya cepat dan lembut. Maka sejak awal karakter lincah dan riang pada bagian ini amat terasa. Ide temanya hanya terdiri satu kalimat musik yang panjangnya tidak lebih dari 5 birama. Dalam 1 tema ini terdapat 2 motif tanya jawab. Sedang ide ritmiknya terdiri dari 2 macam sukat, yakni 2/4 dan 3/4. Sukat 2/4 dimainkan dalam 3 birama yang kemudian selalu dibalas sukat ¾ hanya dalam 1 birama.

Dimulai dengan anacrusis, akor pertama adalah B7 (dominan mayor). Tema di awal tadi diulang-ulang dengan variasi oktaf dan harmoni sampai birama keduapuluh. Kemudian suara piano memainkan tema tersebut namun dalam harmoni yang berbeda, D Mayor (tonika). Setelah duapuluh birama dari piano itu, kemudian masuk pada sesi pengembangan tema yang melodinya dibawakan gitar. Pengembangannya belum terlalu auh dari tema, hanya progresi harmoninya yang sedikit berubah dan menyisipkan beberapa akor minor seperti Cm dan F#m. Di sesi ini pula, ide ritmik di awal dengan masing-masing sukat 2/4 berjumlah 3 birama, dan 3/4 1 birama, tidak berlaku.

Pengembangan kedua (birama limapuluhempat) memakai bahan yang lebih mendekati tema namun dalam akor E Mayor. Sesi ini tidak berlangsung lama karena kemudian di birama tujuhpuluh, solois (gitar) memainkan melodi pada bass yang disahut oleh piano setiap 3 birama.

Pada birama kedelapanpuluhenam terjadi persiapan menuju modulasi. Hal ini terlihat dari pemakaian tanda kres dan mol yang banyak. Intensitas nada pun dibawa menjadi lebih tinggi dan lebih berani memainkan progresi harmoni yang lebih variatif. Kadang ada satu dua harmoni yang tidak harmonis, dan itu memang disengaja oleh komposer modern seperti Rodrigo untuk menimbulkan efek tertentu.

Setelah sesi ini, pengembangan tema menjadi semakin kaya. Meski tetap berpegang pada tema, tapi Rodrigo dapat membuat nuansa-nuansa yang berbeda pada pengembangan-pengembangan ini. Seperti pada birama keseratustigapuluhsembilan, gitar yang bermain dalam not 1/16, pada piano sesekali terdengar alur melodi yang dibunyikan sepotong-sepotong.

Bagian Allegro Gentile ini kemudian ditutup oleh coda yang mengambil bahan tema utama tapi dalam bentuk chordal. Hingga sampai pada solo gitar yang nadanya bergerak turun (descending scale) dan berefek decrescendo.

Penutup

Melalui karyanya Concierto de Aranjuez ini, Rodrigo memperlihatkan bagaimana usahanya dalam merekonstruksi semangat musik zaman Klasik. Bentuk dan ide musikalnya, amat menunjukkan bahwa ciri Klasik amat berpengaruh. Apalagi bila melihat bagian Adagio dan Allegro Gentile yang mempunyai bentuk tema dan variasi, yang semakin menunjukkan ciri musik zaman Klasik. Rodrigo sendiri pun mengakui bahwa karyanya ini dikerjakan sebagai sikap hormatnya kepada dua komposer besar abad 18 yang banyak berkarya di Spanyol, Domenico Scarlatti dan Padre Antonio Soler.

Concierto de Aranjuez adalah satu karya Rodrigo yang menginterpretasikan musik zaman Klasik, tapi berkarakter Spanyol yang Romantik. Ketertarikannya pada sejarah Spanyol juga menambah kesempurnaan karya ini, sehingga mempunyai cira rasa Spanyol yang pas.

Kiranya kejeniusan, kegigihan, dan ketekunan, serta sikap anti kemapanan yang menolak untuk menuruti kebakuanlah yang membuat Rodrigo mendapat tempat tertinggi sebagai salah satu komponis raksasa di dunia musik. Dan Aranjuez, sebuah kota berjarak 50 kilometer di sebelah Selatan Madrid ini menjadi begitu terkenal berkat karya Concierto de Aranjuez yang ditulis seorang komponis kelahiran Valencia, Spanyol, 1901, Joaquin Rodrigo.

***

Daftar Refrensi:

  1. Internet: Wikipedia dengan kata kunci ‘Joaquin Rodrigo’, ‘Concierto de Aranjuez’, ‘Palacio Real de Aranjuez’, ‘Regino Sainz de la Maza’, dan ‘Concerto’. (diakses tanggal 15 Mei 2008)
  2. Internet: http://www.aichi-gakuin.ac.jp/~jeffreyb/draftF02/rie.html. (diakses tanggal 15 Mei 2008)
  3. Buku: Hand in Hand With Joaquin Rodrigo: My Life at the maestro side, Victoria Kamhi Rodrigo, Real Musical
  4. Buku: Kamus Musik, Pono Banoe, Kanisius
  5. Video: Joaquin 100 Anos, Spain: EMI-Odeon
  6. Video: Eduardo Fernandes in Orhestra
  7. Video: Maria Esther Guzman Recital in Japan
Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Tentang Karya

Musik Barok : Sebuah Introduksi

Pos-Renaisans yang Tumbuh dengan Liar

Oleh : Bilawa Ade Respati

Jika ada satu era dalam peradaban barat dimana detail, ornamen, serta virtuositas adalah gagasan utamanya; maka era tersebut tidak diragukan lagi adalah era Barok. Dengan rentang waktu sekitar satu setengah abad, dari tahun 1600 – 1760, daya cipta manusia seolah dipacu hingga batas tertingginya dalam menghasilkan karya – karya yang brilian.

Barok, secara etimologis, berarti “berlian dengan bentuk yang tidak biasa”. Istilah yang dilabelkan pada era ini diperkenalkan pada tahun 1919 oleh Curt Sachs, seorang musikologis berkebangsaan Jerman. Penggunaan istilah ini mengacu kepada keadaan sosiokultural pada masa itu. Setelah era pencerahan Renaisans, eksplorasi kebudayaan seolah terus mencari bentuk kesempurnaannya, hingga melahirkan karakteristik yang bizarre dalam segala bidang kebudayaannya.

Detail yang luar biasa, ornamen – ornamen penghias, emosi yang menggelora, serta tuntutan kemampuan yang tinggi dalam menghasilkan karya menjadi ciri utama era ini. Hal ini dapat kita lihat langsung dari lukisan – lukisan, karya arsitektur, pakaian – pakaian, seni patung, hingga – tidak terkecuali – musik. Kecintaan akan kekayaan nada, keindahan, serta emosi; bercampur dengan logika serta hitungan matematis menghasilkan sebuah musik dengan kompleksitas tinggi dan tuntutan kapabilitas seorang virtuoso.

Batu Rosetta Musik Barat

Ada dua hal yang menyebabkan masa ini menjadi sangat penting dalam sejarah musik barat: pertama, pada masa ini lahir para komposer – komposer jenius yang menghasilkan sebagian karya – karya musik yang luar biasa; kedua, inilah masa dimana teknik serta teori musik lahir dan menjadi dasar musik barat seterusnya. Teori tentang musik sebenarnya sudah lahir sejak zaman Renaisans. Namun, di era Barok inilah terjadi proses pembakuan tentang teori yang ada.

Elemen penting pembentuk musik Barok adalah Polyphony dan Counterpoint. Kedua unsur tersebut sudah dikenal sejak zaman Renaisans dalam bentuk yang sangat sederhana. Polyphony adalah sebuah tekstur dimana terdapat dua suara atau lebih yang bersifat independen. Ini dapat dibayangkan seperti mendengar sebuah paduan suara. Terdapat beberapa jalur suara yang berbeda, yang masing – masing dapat dinyanyikan masing – masing. Namun, tetap membentuk sebuah paduan yang harmonis pada saat digabungkan.

Bentuk evolusi dari Polyphony ini adalah Counterpoint. Counterpoint berasal dari kata latin: contra (lawan) dan punctus (nada). Sebuah punctus contra punctus: “nada melawan nada”. Jadi, Counterpoint adalah hubungan antara dua suara atau lebih yang independen dalam hal kontur dan ritmik, namun saling bergantung dalam aturan harmoni. Kembali bayangkan tentang sebuah paduan suara. Tetapi kali ini, masing – masing line suara memiliki ritmiknya masing – masing. Sehingga apabila dinyanyian satu per satu seolah – olah merupakan terdiri dari beberapa lagu yang berbeda. Dan sekali lagi, saat digabungkan, tetap membentuk keutuhan yang harmonis.

Akibat utama dari kehadiran counterpoint adalah kekayaan melodi serta kompleksivitas struktur musiknya. Agar benar – benar dapat merepresentasikan sebuah karya barok dengan baik, setiap pemain instrumen maupun seorang penyanyi sangat dituntut virtuositasnya. Tuntutan ini mendorong lahirnya teknik – teknik baru, para virtuoso, serta kelahiran kaum prodigy di bidang musik. Musik vokal kalah popularitasnya dibandingkan dengan musik instrumental. Hal ini disebabkan batas suara manusia yang tidak lebih kaya dalam menghasilkan melodi dibandingkan instrumen musik menurut ukuran zaman itu.

Pada masa ini juga, berkembang sebuah doktrin yang dikenal dengan Doctrine of the Affection. Doktrin inilah yang digunakan dalam estetika musikal saat itu. Isinya menyatakan bahwa hanya boleh terdapat sebuah kesatuan dan kerasionalitasan afeksi dalam sebuah karya atau sebuah movement musik. Apabila lebih, maka yang akan timbul adalah kebingungan dan kekacauan. Definisi afeksi disini, mengacu pada Lorenzo Giacomini dalam Orationi e Discorsi (1597), adalah sebuah pergerakan atau operasi spiritual yang diakibatkan oleh ketertarikan atau penolakan terhadap sebuah objek yang telah diidentifikasi, sebagai akibat ketidakseimbangan nafsu hewani dan gas alami yang mengalir secara terus menerus di badan manusia. Kata – kata nafsu hewani dan gas alami, tentu saja, adalah satu bentuk hipotesis terhadap sumber perasaan manusia yang sudah tidak relevan lagi.

Berhubungan dengan penggunaan doktrin ini, maka musik barok umumnya hanya memiliki satu jenis afeksi (emosi) dalam satu buah movement atau sebuah lagu (apabila hanya terdapat satu movement saja). Hal ini mendorong timbulnya gaya bermain yang lebih ekspresif dibandingkan era Renaisans. Sehingga, dikenal apa yang disebut notes inégales : memainkan not tidak sesuai dengan nilai yang seharusnya. Hal ini untuk menciptakan sebuah delay, berimplikasi dengan timbulnya tension dan aksen yang ekspresif. Salah satunya adalah cara bermain saat akan mengakhiri suatu lagu atau frase, yang cenderung ditahan sebelum nada terakhir.

Ornamen – ornamen, tumbuh dan menghias setiap sudut kehidupan masyarakat. Begitu pula dalam musik, mulai timbul ornamen – ornamen tambahan yang membuat kesan ‘centil’. Yang dimaksud dengan ornamen musik yaitu penggunaan nada yang tidak terlalu berpengaruh terhadap keseluruhan melodi atau harmoni, umumnya dimainkan cepat, dengan tujuan untuk menghias bagian atau keseluruhan lagu. Ornamen – ornamen musikal ini memiliki beberapa bentuk. Yang umum kita kenal hingga kini yaitu trill dan mordent.

Genre – genre musik yang ada, menjadi cetak biru perkembangan masa – masa selanjutnya. Di masa inilah opera, sebuah drama musical, diperkenalkan. Oratorio, opera religius, diperkenalkan sebagai tandingan opera sekuler. Bentuk – bentuk lain yang umum digunakan pada masa ini yaitu cantata, toccata, fugue, sonata, dance suite, concerto, dan French ouverture. Penjelasannya adalah sebagai berikut :

Cantata, merupakan komposisi antara vocal dan instrumen. Umumnya bentuk ini bertema religi. Sebagai lawannya, Sonata, adalah music instrumental. Bentuk sonata ini, mengalahkan popularitas musik vokal.

Fugue bisa diartikan sebagai sebuah teknik komposisi maupun sebuah komposisi kontrapungtal untuk sejumlah suara yang telah ditetapkan. Suara disini dapat berupa suara instrument atau vokal

Tocatta, adalah komposisi untuk music keyboard. Biasanya sangat menonjolkan teknik bermain para performernya.

Dance Suite, suatu bentuk kesatuan musical yang umumnya dipentaskan dengan sekali duduk, pada perkembangannya lebih dikenal dengan suite saja. Dance suite merupakan satu set tarian yang populer di abad 17. Biasanya terdiri dari Prelude, Allemande, Courante, Sarabande, dan Gigue; masing – masing mewakili jenis tarian dengan birama tertentu.

Concerto mengacu pada sebuah pertunjukan instrument solo dengan iringan sebuah orkestra. Berkembang dengan beberapa gaya dibawahnya, seperti concerto grosso, sebuah concerto kecil yang terdiri atas para solois.

Alur Sejarah Kultur Raksasa

Periodisasi musik Barok terbagi dalam tiga bagian: awal, pertengahan, dan akhir. Masing – masing memiliki sumbangannya tersendiri dalam perkembangan keilmuan dan khasanah musik barat. Kejadian – kejadian historis sosiokultural turut membentuk karakter music pada era Barok ini.

Masa Barok awal terbentang dari tahun 1600 – 1654. Ditandai dengan pencetusan suatu bentuk disiplin ilmu musik baru oleh Claudio Monteverdi, dikenal dengan istilah seconda practica. Ilmu musik ini, yang penerapannya hanya untuk murid dan relasi Monteverdi pada awalnya, mencakup evolusi polyphony music Renaisans dan suatu bentuk disiplin tonality sederhana. Seconda practica merupakan dasar dari ilmu harmoni, tonality, dan menjadi cikal bakal lahirnya musik homophony disamping counterpoint. Penerapan seconda practica digunakan seutuhnya dalam karya music opera Orfeo karya Monteverdi ini. Kemunculan opera Orfeo, kemudian merangsang berkembangnya genre opera dan mengangkat popularitasnya di dataran Eropa. Disiplin ilmu Monteverdi, diteruskan serta dikembangkan oleh muridnya, Heinrich Schütz.

Musik, seiring dengan jenis kesenian lainnya, tumbuh mekar dengan tidak terkendali dan luar biasa pesat. Hal ini merupakan efek dari euforia masyarakat yang tumbuh sejak masa pencerahan Renaisans. Namun, disamping itu, efek reformasi gereja memiliki dampak yang signifikan dalam memacu pertumbuhan tersebut.

Sejak dipelopori oleh Marthin Luther satu abad sebelumnya, reformasi protestan ini menyebabkan jurang antar pemeluk agama Kristen. Di satu sisi, Katolik dengan segala kekuasaannya menjadi pilihan kaum bangsawan dan di sisi yang lain Protestan bagi rakyat biasa. Timbul persaingan antara kedua kubu ini dalam mencari umat, sehingga seni dan budaya pun dijadikan suatu sarana komersil bagi aliran religi ini. Persaingan ini, mendorong para seniman dari masing – masing kepercayaan untuk terus berlomba – lomba menghasilkan karya yang dilirik oleh massa. Sebagai lawan dari reformasi Protestan, timbul gerakan revival of Catholism. Di bidang musik, gerakan ini dipelopori oleh Giovanni Gabrielli.

Masa pertengahan Barok dicirikan oleh berkembangnya genre – genre music ke dalam bentuk – bentuk yang lebih baku beserta aturannya. Tahun 1654 – 1707, dikenal sebagai age of absolutism. Hal ini dikarenakan, pada masa ini kerajaan – kerajaan semakin mempertebal keabsolutannya, membentuk sebuah monarki yang menjurus tirani. Personifikasi yang tepat adalah Louis XIV dari Perancis. Sentralisasi kekuatan kerajaan, menyebabkan timbulnya budaya court, yaitu menjadikan istana sebagai pusat pemerintahan sekaligus tempat tinggal. Hal ini mendorong terbentuknya court musician, atau musisi istana, yang menjadi wadah sekaligus lahan potensial bagi para musisi maupun komposer diseluruh Eropa. Sebuah pekerjaan terhormat, bersifat lebih permanen, dengan penghasilan baik dan terjaga alirannya. Sesuatu yang sangat menggiurkan bagi musisi manapun di dunia. Selain itu, berkembangnya gereja dan instansi pemerintahan lain menyebabkan timbulnya kebutuhan akan sebuah musik publik yang terorganisasi.

Di masa ini, musik – musik instrumental meraih pamor di kalangan masyarakat, terutama kaum bangsawan. Kelahiran jenis – jenis instrumental untuk chamber music serta keyboard menunjukkan betapa besar tuntutan akan kekayaan harmoni instrumental. Teori – teori permusikan, lebih terstruktur dan menjadi suatu acuan yang formal serta baku. Seluruh karya musik pada masa ini, mengacu kepada satu jenis teori serta struktur yang sama. Dieterich Buxtehude adalah salah seorang penggagas mengenai struktur musik.

String atau instrumen gesek adalah kekuatan utama musik pada era ini. Ia merupakan kebutuhan primer genre – genre utama bahkan hingga sekarang. Hal ini dipelopori oleh Jean – Baptiste Lully. Bentuk Concerto Grosso mulai dipopulerkan, terutama oleh Arcangelo Corelli. Concerto Grosso, merupakan sebuah reduksi orkestra, yang biasanya terdiri dari sekelompok solois. Dan lagi – lagi, string tetap merupakan komponen utamanya.

Penghargaan tertinggi di masa ini, jatuh pada seorang komposer bernama Henry Purcell. Dengan usia yang sangat pendek, 36 tahun, ia menghasilkan sekitar 800 karya musikal. Ia adalah seorang komposer yang terkenal mampu menghasilkan melodi – melodi indah. Selain itu, Purcell dikenal sebagai komposer pertama yang menggubah musik – musik untuk instrumen keyboard.

Masa keemasan Barok, berada di akhir rentang hidupnya, pada tahun 1680 – 1750. Di masa ini, bentuk – bentuk musical seperti binary (AABB), 3 parts (ABC), serta bentuk rondo menjadi struktur formal hingga saat ini. Ilmu mengenai tonality, menjadi teori baku musik barat, digagas oleh Rameau. Yang menjadi tonggak sejarah masa ini adalah, kelahiran para komposer – komposer luar biasa yang memiliki karya – karya yang sangat menakjubkan.

Diantara nama – nama para komposer dari era ini, Antonio Vivaldi adalah salah satu komposer dengan karya abadi yang tetap populer hingga sekarang. Sebagian besar orang tentu kenal dengan nada – nada dari Four Seasons. Vivaldi adalah seorang maestro di violino di sebuah panti asuhan di Venice. Karya – karyanya selalu menggunakan atuiran 3 movement, yang terdiri dari dari bentuk cepat – lambat – cepat. Dalam kancah music untuk keyboard, Alessandro Scarlatti dengan sonata – sonata Harpsichord-nya menjadi trademark tersendiri. Komposer kelahiran Italia ini menghasilkan ratusan karya untuk keyboard dan memiliki ciri Spanish – nya dalam karya – karyanya.

Tidak akan lengkap membicarakan musik Barok, jika tidak menyinggung tentang dua raksasa Barok ini: Johan Sebastian Bach dan George Friderich Handel. Keduanya adalah maestro yang mampu menghasilkan beratus – ratus karya dengan kekayaan nada yang melimpah. Keduanya, sayangnya, tidak pernah bertemu satu kalipun walau saling mengetahui. Handel dikenal sebagai ahli melodi serta improvisasi. Kebanyakan karyanya memiliki emphasis pada dua hal tersebut. Handel terkenal oleh oratorionya yang berjudul Messia. Sementara Bach, adalah seorang jenius counterpoint sejati. Karya – karyanya merupakan perpustakaan tentang ilmu counterpoint serta berbagai bentuk, jenis, dan kombinasinya. Bradenburg Concertos, merupakan salah satu karya gemilangnya.

Tertidurnya Para Raksasa, Menyongsong Era Klasik

Raksasa sekalipun, tetap mematuhi aturan alam mengenai kelahiran dan kematian. Musik Barok pada akhirnya perlahan – lahan tenggelam dan mengalami suatu bentuk simplifikasi di era selanjutnya. Era klasik adalah masa dimana hal – hal yang dianggap berlebihan atau tidak manusiawi mengalami pemangkasan. Hal ini dapat dilihat dari penurunan penggunaan counterpoint serta ornamentasi. Selain itu, jenis music mulai mengarah kepada bentuk homophonic, dibandingkan polyphonic. Doctrine of Affection pun dilawan, karena dianggap terlalu mekanistik serta tidak alami. Demikian pada akhirnya, raksasa yang kokoh itu mulai tertidur kembali selama beberapa ratus tahun, hingga kembali di apresiasi di masa selanjutnya.

Tinggalkan komentar

Filed under Tentang Sejarah